Ceritanya…tentang Belanda, negara yang terletak di bagian barat laut Eropa. Negara ini kerap dijuluki dengan sebutan de Lage Landen bij de zee (negeri-negeri rendah di tepi laut, Snoek 1987:3). Secara geografis 55% wilayah Belanda, berada di permukaan laut dan terletak di delta muara sungai-sungai besar di Eropa, seperti Rijn, Maas, Ijssel, dan Schelt. Dengan situasi seperti itu maka tidak mengherankan jika air menjadi musuh yang menakutkan bagi penduduk Belanda. Apalagi ketika musim hujan tiba, jantung mereka semakin dag-dig-dug akan bencana banjir.

Seperti peristiwa pada 31 Januari 1953, Belanda dilanda banjir yang sangat besar. Banjir tersebut disebabkan karena bendungan di Propinsi Zeeland, West Brabant dan pulau-pulau di sekitar Zuid Holland pecah. Akibat dari bencana tersebut sekitar 1800 orang tewas dan 72.000 orang kehilangan tempat tinggal. Mirisnya bencana ini juga memporak-porandakan 200.000 hektar lahan. Banjir terus mengancam…sementara 60% penduduk Belanda hidup di bawah permukaan laut.  Bayangan buruk banjir mendorong Belanda untuk berpikir keras agar dapat keluar dari jeratan itu.

Akhirnya beranjak dari situasi tersebut dengan diprakasai Dr. Ir Cornelis Lely (1885-1932) Belanda berhasil membangun sistem pembuangan air canggih yang mampu mengeringkan laut menjadi  daratan. Salah satu proyek pengeringan laut terbesar tersebut dinamakan Zuiderzeewerden yang secara harafiah berarti pengerjaan Laut Selatan. Wilayah-wilayah yang berhasil dikeringkan dengan Zuiderzeewerden adalah Wieringermeer yang terletak di sebelah Timur Laut Noord-Holand. Selang beberapa tahun kemudian Belanda menunjukkan totalitasnya dengan menyelesaikan pembangunan Afsluitdijk yang merupakan bendungan antara wilayah Noor-Holland dan Friesland serta sebagian wilayah Ijsselmer (Snoek, 1987:5). Masih tetap dengan inovasi baru, pada tahun 1980 Belanda menyelesaikan Delta Plan yang dibangun di Provinsi Zeeland dan Noord-Holand. Dengan proyek ini menghasilkan empat bendungan utama yang menutup selat dan di bagian barat daya Belanda, tiga bendungan pembantu serta bendungan penahan badai sungai Ijssel. Tidak cukup itu saja proyek ini juga menciptakan danau air tawar dan mencegah air laut masuk ke daratan (Redaksi Ensiklopedia, 1990:153).

Yah, kalo dipikir-pikir elemen air terus melahirkan inovasi bagi Belanda. Tanpa disadari  pembangunan bendungan di Sungai Rotte itu turut mempengaruhi kemajuan pelabuhan Rotterdam. Rotterdam terletak diantara Sungai Rijn, Maas, dan Schelde di Laut Utara. Sementara sungai-sungai tersebut mengalir di sepanjang wilayah jantung Eropa. Maka dapat dipahami jika tahun 1962-2004 Rotterdam dinobatkan sebagai pelabuhan tersibuk di dunia.

Di sisi lain ide dalam mengolah air masih berlanjut. Pada abad ke 16 dilakukan pembangunan besar dengan membangun kanal. Diawali dengan 3 kanal yang digali hingga mencapai Leidsegracht. Dari ketiga kanal itu membentuk sabuk konsentris pada daerah sekitar kota, yang meliputi  Herengracth, Prinsengranct dan Keizersgracht. Panjangnya saat ini lebih dari 100 km atau setara dengan 60 mil dengan jembatan yang berjumlah 1.500.

Alhasil hingga kini kanal-kanal ini merupakan tempat wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan. Bahkan pada abad ke 17 kanal-kanal yang berada di jantung Amsterdam dimasukkan ke dalam Daftar Warisan Dunia (UNESCO) pada Juli tahun 2010 (wikipedia:2015). Bisa dibayangkan betapa Belanda terus berjerih payah untuk memugar tenaga-tenaga air demi kelangsungan hidup mereka. Deretan Zuiderzeewerden, pelabuhan Rotterdam, dan kanal mampu ditarik oleh elemen air.

Sumber:

http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda

http://www.bonjourbag.com/blog/tempat-wisata-di-belanda/

http://www.dw.de/investasi-miliaran-di-pelabuhan-rotterdam/a-4449446

http://web-friesland.nl/afbeeldingen/Afsluitdijk_200_MW.jpg,

http://rahadiona.blogspot.com/2013/01/banjir-terbesar-di-dunia.htm

http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20311583-S42960-Analisis%205.pdf

Iklan

Sebagian orang mengatakan bahwa manusia lahir membawa potensi untuk cerdas. Pendapat lain menyatakan bahwa intelegensi berkembang dan dapat dibina seiring dengan pertumbuhan manusia, melalui pengaruh orang tua dan guru.

Dari pemikiran itu, setidaknya muncul tiga lingkaran besar kecerdasan dalam kelompok IQ (intelligence quotients), EQ (emotional quotients) dan SQ (spiritual quotients). Sepanjang sejarah 3 kelompok kecerdasan tadi kerap menjadi perdebatan sengit di berbagai kalangan. Inilah mungkin satu alasan yang merasuki saya untuk membahas masalah kecerdasan.

Mari kita mulai dari Stephen R Covey yang mendefenisikan IQ sebagaikecerdasan manusia berhubungan dengan mentalitasmeliputi kecerdasan untuk menganalisa, berpikir, menentukan kausalitas, berpikir abstrak, bahasa, visualisasi, dan memahami sesuatu. Dan Mayer mendefenisikan EQ sebagai kemampuan mental yang membantu anda mengenali dan memahami perasaan anda dan perasaan orang lain, menuntun kepada kemampuan untuk mengatur perasaan. Sedangkan kecerdasan SQ cenderung bertolak dari hati, membangun manusia lebih kreatif jika dihadapkan pada masalah, menyelami makna masalah itu serta menyelesaikannya guna mencari kedamaian hati.

      Walaupun tidak ada batas mutlak kecerdasan manusia, tetapi ketiga intelegensi ini mampu mengubah kehidupan manusia. Katakan saja IQ mampu mempengaruhi nilai akademik yang menjadi pijakan dalam berkarir. Maka saya rasa semua orang setuju, pendidikan merupakan jalan efektif tuk  menggagas gaya kecerdasan. Dan dalam dunia pendidikan batasan intelektual lazim diukur di atas pensil dan kertas. Namun di tengah tahapan ujian, pengetahuan sering tak mampu terbaca oleh kecerdasan, hingga bermuara pada kegagalan. Bisa dibayangkan bagaimana dampaknya.

      Alhasil prestasi mereka menjadi anjlok. Kalo sudah begini, otomatis orang akan berasumsi IQ mereka masih rendah. Atau sebaliknya implementasi IQ belum berjalan baik. Dalam menyikapi masalah ini dapat dilakukan dengan mengimbangi ketidakmampuan mereka tanpa bergantung pada orang lain. Misalnya guru menyajikan pertanyaan ujian secara auditif, lalu mereka menjawabnya dengan audio tape. Alasan dilakukan pendekatan ini agar waktu ujian terasa lebih menyenangkan. Dan hasil akhir diharapkan mereka lulus dengan nilai memuaskan.

      Lalu bagaimana dengan EQ? Dalam buku The Emotionally Intelligent Workplace Goleman menjelaskan bahwa perilaku EQ bisa dilihat dari kemampuan penyadaran sosial (social awareness). Boleh dikatakan EQ tidak hanya tergantung pada kompetensi empati semata, melainkan juga  kemampuan untuk berorientasi pelayanan dan kesadaran akan organisasi. Dalam mengimplementasikan kecerdasan emosi dalam pendidikan dapat dilakukan dengan membangun keterampilan sosial dan kesadaran sosial. Misalnya membentuk tim diskusi siswa di sekolah, bermusyawarah dalam menyelesaikan masalah. Dalam wadah tersebut diharapkan siswa mampu mengelola emosi diri dan orang lain, serta melahirkan kecakapan bersosialisasi. Dan pada masa berikutnya tidak ditemukan lagi orang menyandang nilai akademik tinggi tetapi gagal dalam membina hubungan dengan orang lain.

           Di sisi lain kecerdasan SQ bertitik pada satu titik yang sering disebut god spot. Mendengar istilah itu, tentu saja akan menyangkut pencerahan jiwa manusia. Dan terlebih lagi menurut para ahli SQ kerap disebut-sebut sebagai penentu kesuksesan. Nah! mengingat betapa pentingnya SQ, maka  sudah selayaknya diterapkan di ranah pendidikan kita. Bila ada yang bertanya tentang cara penerapannya, jawabannya dengan memasukkan kurikulum bina mental. Kegiatan bina mental dikemas dengan siraman rohani sebagai fondasi membentuk manusia bermoral. Karena saat ini bukan hanya kecerdasan intelektual yang dibutuhkan, melainkan kita juga harus fokus para karakter yang baik.

Sepanjang sejarah kehidupan manusia tak akan luput dari penggunaan obat-obatan. Dalam kenyataannya tidaklah mudah menghasilkan senyawa zat yang satuan-satuan terkecilnya mampu meringankan penyakit. Mari kita mulai dengan menilik perilaku kegiatan manusia untuk memperolehnya.

Boleh dikatakan bahan dasar obat di masa lampau berasal dari tanaman. Berbekal pengalaman empiris manusia purba mencoba meracik, meramu sampai merebus daun hingga akar tumbuhan yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakit. Semua pasti setuju bahwa proses pembuatan obat-obatan seperti ini sangat sederhana dan tidak membutuhkan biaya operasional tinggi. Walaupun cukup sederhana, namun hal ini dianggap kurang memuaskan. Sehingga para ahli kimia mulai mengisolasi senyawa-senyawa organik, anorganik dengan struktur lebih kompleks yang bermanfaat sebagai agen terapi.

Dalam perkembangannya pada abad 20 mereka mengolah senyawa organik dan anorganik menjadi obat sintesis. Jika hasil penemuan menjanjikan, perusahaan melakukan investigasi klinis, atau “uji coba” obat tersebut pada pasien. Uji klinis pada manusia biasanya berlangsung dalam tiga tahap.

Pertama, ilmuwan medis mengelola obat untuk sekelompok kecil sukarelawan sehat untuk menentukan dan menyesuaikan tingkat dosis, serta memantau efek samping. Bila obat terbukti bermanfaat dan aman, tes tambahan dilakukan dalam dua tahap lagi. Pada fase ini biasanya menitikberatkan kaum sukarelawan dengan skala besar ataupun pasien yang dipilih dengan cermat. Tak jarang babak final pengujian akan melibatkan 10.000 orang.
Nah! bisa dibayangkan untuk menghasilkan 1 obat membutuhkan pemikiran, pengujian panjang dan biaya penelitian ilmiah yang tidak sedikit. Sebagai gambaran realistis dapat kita dicontohkan pada sebuah perusahaan farmasi global “X” . Tak tanggung-tanggung untuk satu jenis obat merek mereka telah menghabiskan anggaran sekitar $ 12 milyar dalam membiayai proses penelitian, uji klinis tunggal, uji klinik, biaya gabungan manufaktur, sampai beban kegagalan, dengan rentan waktu 15 tahun.
Tahapan demi tahapan sewajarnya berakhir pada operasi manufaktur. Setelah diproduksi secara bersamaan, muncul kekhawatiran produsen ikut bermain memaksimalkan margin laba. Dengan asumsi sederhana penciptaan obat telah menguras jutaan rupiah, diiringi anggaran uji klinis guna menjamin keamanan dan kemanjuran obat. Hmmm ternyata urusan pembiayaan belum selesai lho.

Jantung produsen farmasi obat bermerek masih saja dag-dig-dug, dalam mengkalkulasi beban lain-lain mengapa? Mereka wajib membeli hak paten, atau paling tidak harus membayar mahal untuk investasi penelitian tersebut.
Sementara di sisi lain, untuk meningkatkan pangsa pasar pastilah menuntut desain kreatif kemasan, investasi pemasaran, sebagai ajang pengenalan ke khalayak ramai. Itu berarti produsen farmasi harus rela membayar mahal lagi. Alhasil trend kenaikan harga obat terus menjalar sehingga cukup masuk akal jika harga obat terlalu mahal

Potensi kenaikan harga obat juga berkaitan dengan bahan baku yang masih terus diimpor dari luar negeri. Pemasok impor terbanyak dari Cina mencapai 75%, disusul India 20% dan sisanya dilengkapi oleh negara Eropa. Sekedar diketahui kontribusi bahan baku menyumbang 25-30% dari beban keseluruhan. Maka tak heran biaya obat-obatan saat berobat di rumah sakit mencapai 40-60 persen dari total biaya yang harus ditanggung oleh si pasien. Bayangan buruk tadi kerap menghiasi wajah obat bermerek Indonesia. Walaupun demikian, kelihatannya pasien belum mampu berbuat apa-apa dalam mensiasatinya.

Fenomena ini turut dirasakan sebut saja Muhasym 52 tahun, seorang pasien salah satu rumah sakit swasta Pematangsiantar 2-Januari 2013. Diberitahu beliau mengalami tekanan darah tinggi sehingga dokter merekomendasi rawat inap selama beberapa hari. Saya melihat bagaimana istri (ibu Ariani) bapak tadi bingung untuk menebus obat, karena jumlah nominalnya jauh dari uang yang ia punya. Usut punya usut dokter telah meresapkan obat paten untuk perawatan suaminya, maka tak heran jika penagihannya menjadi lebih mahal. imagesource. http://www.google.com

 

obat mahal

Kejadian tadi seolah-olah mengisyaratkan bahwa “selama ada orang sakit maka muncul penulisan resep tak rasional diikuti pelonjakan biaya obat. Perlu disadari gambaran realistis ini begitu menakutkan pasien. Bahkan segelintir dokter menjadikan pasien sebagai umpan dibalik obat paten. Diiringi bujuk rayu marketing sejati, tenaga dokter sedang “dibeli” atau berputar-putar oleh perusahaan obat paten.

Kalo sudah begini otomatis, pasien sangat dirugikan. Dan situasi akan berubah jika pasien selalu disuplai dengan obat generik, ataupun OGB (Obat Generik Berlogo). Menurut penelitian FDA (Food And Drug Administration) di Amerika obat generik wajib memiliki bahan aktif, kekuatan, bentuk, sediaan dan rute pemberian sebagai produk merek. Di sisi lain isu harga OGB kerap menjadi topik hangat. Selanjutnya bagaimana sich hitung-hitungan ekonomis OGB itu?
Mau tahu apa keuntungan lain dari obat generik? Satu kata: harga Belakangan kantor anggaran Kongres memperkirakan bahwa konsumen menghemat hampir $ 10 miliar per tahun dengan mengkonsumsi obat generik. imagesource. www. google.com

generic

Tetapi sayangnya hingga kini, orang-orang tetap saja tergiur dengan sebutan “paten”. Mereka berkutat dengan asumsi paten berarti hebat dan manjur, terkesan mampu menyembuhkan penderitaan pasien. Mirisnya tanpa disadari, segelintir orang terlalu sombong tuk memilih obat versi generik. Akhirnya farmasi OGB menjadi bingung, nasib generik ibarat suatu bagian terkecil ditaruh di bawah mikroskop.

Memang mengherankan! Saya berpandangan kenyataan ini bukanlah menjadi bahan untuk menghujat dan menyalahkan masyarakat. Fenomena tersebut mendorong saya untuk ikut memikirkannya. Lalu kira-kira apa yang harus dilakukan?
Sebagai terobosan pertama harus membenahi pengetahuan masyarakat tentang OGB. Atau paling tidak memperkenalkan produk-produk OGB Indonesia dengan link http://www.dexa-medica.com Karena masih banyak dari kita buta dengan OGB, hingga melahirkan asumsi negatif. Beranjak dari situasi itu, dilakukan usaha guna membuka cakrawala mereka bahwa OGB merupakan obat bermutu dan berpotensi sebagai mesin penyembuh.

Dalam rangka mengaplikasikan terobosan tersebut perusahaan farmasi dapat melakukan sosialisasi mengunjungi pasien di rumah sakit. Mungkin pembaca bertanya-tanya mengapa dipilih sosialisasi ini? Ide kunjungan tercetus karena terjadi penurunan psikologis atau stres pada pasien yang menderita penyakit tertentu. Biasanya muncul perubahan emosional, fisik, sensitif bahkan apatis dan tidak berdaya pada diri sendiri.

Maka kunjungan bentuk apresiasi kepedulian guna mengenali memperbaiki kesejahteraan psikologis si pasien. Dalam kegiatan sosialisasi dilakukan dialog, pendekatan dengan harapan membangun motivasi sehingga pasien tidak merasa terisolasi.
Selepas pendekatan tadi perusahaan farmasi memberikan hadiah yang dibutuhkan mereka selama di rumah sakit. Misalnya selimut, bantal, handuk dan lain-lain. Di balik semua itu perusahaan farmasi harus mampu meruntuhkan mitos-mitos negatif tentang OGB, dan juga memanusiakan manusia oleh kemanusiaan.

Sebagai terobosan kedua, pernahkah perusahaan farmasi berpikir mensponsori pendidikan kedokteran berkelanjutan. Kenapa harus pendidikan kedokteran? Tentu saja mengundang tanda tanya besar bagi kita semua.
Alternatif pendidikan berkelanjutan diadopsi mengingat ranah kedokteran kita masih diwarnai ketimpangan tenaga ahli. Sesuai kriteria WHO, satu orang dokter layak melayani 2.500 penduduk atau 40: 100.000. Namun rasio jumlah dokter ahli Indonesia masih 33 per 100.000 penduduk. Berangkat dari fakta tersebut, saya merasa pendidikan kedokteran Indonesia harus dibenahi. Lalu pendidikan berkelanjutan sebagai investasi jangka panjang perusahaan farmasi generik dalam memajukan dokter Indonesia.

Ya, tidak dapat dipungkiri dunia farmasi dan tenaga dokter saling tergantung. Ibarat dua keping mata logam yang tak dapat dipisahkan. Melalui tangan-tangan mereka muncul secercah asa memajukan OGB Indonesia, hingga mampu bertengger sejajar dengan obat bermerek lain.

KETIKA “BCA” MENJAWAB HUNIAN ANDA

Semakin hari jumlah komunitas penduduk akan melonjak. Secara otomatis mau tidak mau, permintaan sebuah hunian pun akan terus meningkat. Sementara itu Tuhan tidak menciptakan lahan baru sebagai tempat manusia bernaung. Lalu, bagaimanakah kita mensiasatinya…

Sejatinya setiap manusia hidup mempunyai kebutuhan pokok sama. Tidak terkecuali dengan tempat tinggal (hunian) pun menjadi kebutuhan utama yang tidak dapat digantikan.Menurut Kamus besar bahasa Indonesia, hunian dapat diartikan sebagai tempat tinggal atau kediaman yang dihuni. Nah! walaupun menjadi kebutuhan utama, untuk memilikinya bukanlah persoalan mudah. Selain dibutuhkan sejumlah uang cukup, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan untuk membeli rumah, sebagai tempat tingal permanen. Seperti menentukan lokasi, kemampuan finansial, ditambah sebagian kepercayaan masyarakat tentang feng-sui cenderung membuat masalah ini semakin kompleks.

Apapun kondisinya, menurut saya kemampuan finansial menjadi akar persoalan yang harus dituntaskan. Alhasil sebagian orang memilih berbagai pilihan seperti tinggal bersama orang tua, menyewa tempat kost, hingga rumah kontrakan.

Meskipun menjadi kebutuhan pokok, sekitar 14 juta keluarga atau 23% dari 61 juta keluarga di Indonesia belum memiliki rumah (data BPS tahun 2011). Cukup memprihatikan toh!  Tidak bisa dipungkiri, keluarga-keluarga tersebut harus memiliki rencana masa depan untuk  membangun hunian ideal. Tapi di sisi lain, banyak orang berpresepsi bahwa mewujudkan impian memiliki hunian yang ideal hanya diperuntukan bagi mereka yang berduit saja. Padahal menurut saya siapa pun bisa mewujudkannya! Lalu bagaimana strateginya?

Hanya dibutuhkan sedikit kreativitas kita saja dalam memulai langkah mewujudkan hunian impian. Solusi perbankan BCA mampu menjawabnya, dengan memanfaatkan fasilitas produk dan layanan  KPR (Kredit Kepemilikan Rumah) yang ditawarkan bank BCA. Dalam konteks ini artinya, pihak bank BCA yang membiayai rumah tersebut, sehingga tidak perlu risau jika belum memiliki dana memadai. Dengan kata lain pihak bank, menjadi orang ketiga dalam transaksi antara kreditur dengan pihak developer (pengelola perumahan). Biasanya pihak developer bertanggung jawab penuh dalam proses pembangunan hunian, hingga para  kreditur tidak perlu ribet mengerjakannya. Dengan syarat mutlak pihak bank hanya membayar 70% dari harga rumah, dan 30 % lagi harus dibayar sendiri dari kantong anda (Safir senduk tabloid nova no.679/XIV).

Image

Proses pembangunan hunian oleh developer  foto dokumen pribadi

Misalnya harga rumah Rp 100 juta, maka anda harus membayar 30 juta, setelah itu bank akan melunasi sebesar 70 juta. Pembayaran 30% tersebut, dianggap sebagai DP (down payment), atau lazim disebut uang muka. Sisa harga rumah tadilah yang menjadi hutang anda tentu saja disertai bunga yang wajib dicicil setiap bulan. Satu hal yang perlu diingat, KPR yang disetujui oleh bank wajib menghabiskan 1/3 atau 33% dari penghasilan rutin anda. Sebagai contoh, jika anda memiliki penghasilan Rp 2 juta per bulan, maka anda wajib menyisihkan uang sekitar Rp 660 ribu setiap bulannya. Jika uraian singkat ini belum dapat dipahami, anda dapat mengunjungi cabang-cabang BCA terdekat atau membuka situs BCA  dengan alamat www.bca.co.id.

Wah…kedengarannya memberatkan ya? Bisa-bisa jantung para kreditur semakin dag-dig-dug untuk membayarnya. Anda tak perlu khawatir! Lagi-lagi, BCA memberikan suku bunga 8% fixed selama 55 bulan dengan rentang waktu angsuran  maksimal 20 tahun. Hmm…anda semakin tertantang mewujudkan hunian ideal? Jangan sampai terlewatkan! program tersebut berakhir hingga 31 Juli 2012.

Ketika berbicara angsuran, tentu saja  menyangkut transaksi pembayaran. Bisa dibayangkan, kegiatan para kreditur yang beraneka ragam selayaknya menuntut media pembayaran cepat dan praktis guna kemudahan transaksi. Kehadiran mesin ATM (Anjungan Tunai Mandiri) mampu membantu anda dalam menunaikan kewajjiban KPR tanpa dilayani seorang “teller” manusia. Benda yang ditemukan oleh Simjian Luther George, bukanlah benda asing membantu kreditur melakukan transaksi perbankan dengan praktis di segala penjuru dunia. Begitu pun dengan kebutuhan  transaksi KPR, cukup dengan kartu paspor BCA, tekan item-itemnya, secara otomatis transaksi KPR anda akan selesai. Cukup mudah ya?

Selain itu untuk memenuhi transaksi KPR, anda dapat menggunakan alternatif lain seperti SMS banking sebagai layanan perbankan terpopuler saat ini. Media ini dilakukan dengan cara menbuat pesan melalui handphone untuk dikirim ke BCA. Sebuah pesan singkat akan masuk ke handphone anda, menanyakan junlah dana yang akan dikirim beserta nomor rekening tujuan. Setelah transaksi terjadi disertai pengiriman uang, akan dilanjutkan pengiriman pesan konfirmasi BCA menyatakan transaksi berhasil atau gagal. Itu berarti, kita tidak perlu menghabiskan waktu mencari ATM BCA. Layanan perbankan dimaksudkan guna memudahkan orang melakukan transaksi kapanpun dan dimanapun.

Semudah apapun produk-produk yang ditawarkan oleh BCA, ujung-ujungnya tetap dibutuhkan kerja keras dalam menyeimbangkan pemasukan dan pengeluaran dalam mewujudkan hunian ideal, terlebih lagi anda terbebas dari utang. Sekedar catatan utang merupakan pembunuh kebebasan primer hingga bermuara menghambat kebebasan finansial manusia. Suatu saat siapapun pasti menginginkan, suatu kondisi keuangan dengan pencapaian investasi yang cukup banyak, relatif aman, dan hasilnya mencukupi kebutuhan kita untuk hidup dengan gaya yang kita inginkan (Anthony Robbins).

Hidup manusia, tidak akan pernah luput dari pajak. Sumber yang satu ini, selalu diiringi dengan anggapan yang “aneh-aneh” dikalangan khalayak ramai. Apalagi, gonjang-ganjing pemberitaan pajak yang terdengar saat ini, telah merubuhkan amanah serta merusak kepercayaan mereka. Tindakan nyata bermakna  efektif dan efisien  harus segera diwujudkan tuk  membasmi rasa kecewa ini.

Baca entri selengkapnya »

KETIKA WAKIL RAKYAT  BERBICARA HARGA DIRI

Menjadi sosok  wakil rakyat, menduduki kursi  “empuk” dunia  pemerintahan tentu  menjadi  impian banyak orang. Sementara pada kenyataan akhir  mereka harus  mendapatkan posisi unik di hadapan produk-produk kultural manusia lainnya. Kebolehan setiap kepala, setiap diri, menggenggam tafsir dan kriterianya sendiri-sendiri. Setiap manusia mendapatkan kebebasan mutlaknya dalam mengapresiasikan satu ide, sistem, karya atau hasil peradaban manusia, dalam praktisnya yang tidak luput dari makna idealnya yang disebut demokrasi.

Baca entri selengkapnya »